Buku berjudul: "The Promise: President Obama Year One" (Simon & Schuster, 2010) oleh Jonathan Alter mengisahkan seluk-beluk tahun pertama kepemimpinan Presiden Barrack Obama yang dilantik pada Januari 2009 dan memberi inspirasi kepada dunia melalui janji besarnya "Change We Can Believe In".
Alter adalah jurnalis senior yang memiliki akses unik hingga ke Situation Room, suatu ruang khusus di basemen Gedung Putih dimana keputusan-keputusan besar Presiden Amerika sejak Vietnam hingga Iraq dan Afghanistan dirumuskan.
Berbagai ulasan dan review di internet menyebutkan bahwa buku ini memberi jalan untuk memahami bagaimana seorang Obama menyadari dan menggunakan kewenangan yang dimiliki sebagai Kepala Eksekutif Tertinggi dari suatu negara. Dalam tahun pertama kepemimpinannya, tentu saja, tidak semua janji kampanye dapat direalisasi. Tetapi, Alter menyebutkan (Newsweek, 15 Juni 2010), apa yang dilakukan Obama pada tahun pertama kepemimpinannya menunjukkan bahwa ia sungguh menyadari siapa pemimpin dan apa yang dihadapi.
Selama puluhan tahun, peranan militer dalam pemerintahan Amerika Serikat begitu dominan. Inilah tantangan pertama Obama menangani Afghanistan, salah satu isu penting dalam kampanyenya. Pentagon begitu antusias mempertahankan keterlibatan AS di negara yang diduga menjadi basis Al Qaeda tersebut. Presiden Obama mengungkapkan, "selama delapan tahun terakhir, apapun yang diminta oleh militer selalu mereka dapatkan. Tugas pertama saya adalah membatasi keinginan itu". Sang presiden memanfaatkan betul isu penting dalam manajemen krisis modern, yaitu: waktu. Dalam setiap diskusi yang alot dengan petinggi Pentagon, Obama berkali-kali menegaskan pentingnya setiap orang memperhatikan masalah waktu untuk menyelesaikan setiap persoalan. Afghanistan kemudian dirancang untuk diselesaikan dalam waktu 18 bulan (yaitu hingga Juli 2011), dimana Presiden Obama menginstruksikan bahwa tentara-tentara Amerika sudah harus ditarik pada waktu tersebut.
Pada tahun pertama kepemimpinannya, Presiden Obama sungguh menggunakan waktu seefektif mungkin dengan berani mengambil resiko popularitas. Ia mengalokasikan milyaran dollar untuk stimulus anggaran, merancang bail-out besar-besaran terhadap perbankan dan sektor otomotif, meloloskan undang-undang jaminan kesehatan baru, dan termasuk mengerem ambisi militeristik kaum konservatif dalam pemerintahannya. Dan semua itu adalah kebijakan-kebijakan yang sangat tidak populer, terutama di kalangan politisi. Bahkan, untuk kebijakan reformasi sektor kesehatan, tantangan terberat datang dari Wakil Presiden Joe Bidden dan Kepala Staff Gedung Putih, Rahm Emmanuel, yang bahkan berucap: "Saya memohon kepadanya untuk tidak mengambil kebijakan itu".
Dalam pandangan Obama, ia harus menunjukkan siapa pemimpin sejak awal. Dengan demikian, ia bisa mengetahui siapa saja yang akan menjadi penentangnya, sekaligus untuk menunjukkan kepada semua pihak bahwa ia memiliki kewenangan sebagai presiden. Adalah sangat berbahaya bagi masa depan kepemimpinannya, dan juga masa depan Amerika, jika ia lemah dan tidak menunjukkan karakter yang jelas. Hal paling penting dalam tahun pertama pemerintahan Obama adalah ia menyampaikan pesan yang nyata kepada seluruh staf dan kabinetnya: "jika kamu tidak dapat menyelesaikan masalah ini, maka ia akan menjadi masalah saya. Kita harus bertindak cepat".
Dalam kasus tumpahan minyak di Teluk Meksiko pada akhir April 2010, Presiden Obama menunda rencana kunjungan ke Indonesia dan Australia untuk menangani langsung persoalan itu. Penundaan yang sama telah dilakukan ketika Obama bertekad meloloskan rancangan undang-undang reformasi kesehatan pada awal 2010. Bahkan Obama sempat mengancam untuk menggunakan hak prerogatifnya sebagai Presiden demi meloloskan kebijakan itu, meskipun ditentang habis-habisan oleh para politisi dari Partai Republik.
Setahun kepemimpinan Barrack Obama sebagai presiden AS setidaknya memberikan tiga pelajaran penting. Pertama, tugas seorang pemimpin adalah mengambil resiko dan berani untuk tidak populer. Jika hanya melaksanakan kepemimpinan "menurut aturan", siapapun dapat menjadi pemimpin. Atau dengan kata lain, tidak ada pemimpin, melainkan robot yang dikendalikan aturan. Kedua, pemimpin adalah "sentra penyelesaian masalah". Ia tidak boleh menutup mata terhadap setiap persoalan, apalagi jika menyangkut kepentingan besar yang melibatkan rakyat. Ketiga, manajemen krisis modern yang diterapkan Obama menekankan pertimbangan "pemanfaatan waktu" (timing) yang tepat. Jangan pernah biarkan suatu issu berkembang terlalu lama, gunakan hak-hak prerogatif sebagai pemimpin untuk menyelesaikan masalah. Juga libatkan pertimbangan terhadap waktu yang memungkinkan untuk menyelesaikan masalah.
Zay N. Smith mengungkapkan kekaguman pada upaya Alter memformulasikan fenomena tahun pertama Presiden Obama dalam buku ini (Chicago Sun Times, 16 Mei 2010). Kata Smith, "jurnalisme adalah literatur yang dibuat tergesa-gesa". Tetapi tulisan jurnalis adalah langkah awal yang penting untuk menempatkan titik pertama dalam perjalanan sejarah. Masa depan kepemimpinan Presiden Obama tiga tahun mendatang, nampaknya sudah tergambar sejak kini: dia adalah presiden yang memiliki wewenang besar, dan -hal paling penting adalah- ia menyadari dan menggunakan wewenang itu untuk cita-cita besar yang diyakininya. *
(Tulisan ini telah dimuat pada Harian Tribun Timur Makassar)





